Skip navigation

Bila kita membicarakan bahasa, sepertinya tidak akan lepas dari masyarakat. Setiap masyarakat pemakai suatu bahasa memiliki kesepakatan tentang bahasanya, misalnya berkaitan dengan kaidah, struktur, dan kosakata. Kesepakatan mengenai kaidah dan kosakata itu sampai batas waktu tertentu secara umum masih mampu mewadahi seluruh konsep, gagasan, dan ide para pemakainya. Namun, pada saat tertentu akan sampailah pada suatu kebutuhan akan adanya kesepakatan baru yang memperkaya dan melengkapi kesepakatan sebelumnya, yatu manakala kesepakatan lama telah tidak cukup lagi mewadahi konsep, gagasan, dan ide yang ada.

Apabila telah sampai pada titik waktu sepeti itu, maka masyarakat bahasa yang bersangkutan biasanya melirik kesepakatan masyarakat pemakai bahasa lain. Dengan demikian, maka terjadilah sebuah proses kreavititas masyarakat bahasa yang disebut pemungutan (borrowing) unsur bahasa dari bahasa lain. Demikianlah pemungutan/penyerapan menjadi salah satu penyebab terjadinya perkembangan sebuah bahasa.

Proses terjadinya penyerapan itu sendiri tentu saja diawali oleh adanya kontak antarbahasa. Kontak antarbahasa pu terjadi karena adanya kontak antar masyarakat bahasa. Terjadinya kontak antara bangsa Arab dengan bangsa Indonesia misalnya, menyebabkan terjadinya

kontak antara kedua bahasa itu. Penyerapan kosakata bahasa-bahasa asing: bahasa Inggris, bahasa Arab, Belanda dan lain-lain ke dalam bahasa Indonesia menjadi bukti adanya kontak antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa tersebut.

Kontak antarbangsa saat ini tidak dapat dihindari. Tidak ada bangsa yang dapat membebaskan diri dari kontak dengan dunia luar. Hal ini menyebabkan satu bahasa pun yang terbebas dari kontak dengan bahasa lain. Sebuah bahasa yang tidak menjalin kontak dengan bahasa lain lambat laun akan menjadi bahasa yang mati, menjadi bahasa yang tidak memiliki penuturnya lagi.

Dua bahasa yang berkontak akan saling mempengaruhi. Kontak bahasa yang terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah menyebabkan terjadinya proses saling mempengaruhi antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah. Akibatnya, beberapa kosakata bahasa Indonesia diserap oleh bahasa-bahasa daerah dan beberapa kosakata bahasa daerah pun diserap oleh bahasa Indonesia.

Penyarapan kata dari bahasa lain ke dalam bahasa tertentu bisa berdasarkan kondisi objektif, bisa juga berdasarkan kondisi subjektif. Pnyerapan yang berdasarkan pada kondisi objektif, yaitu penyerapan bahasa akibat kurang emadainya khazanah kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa sehingga perlu dilakukan pemungutan kosakata dari bahasa lain. Sedangkan penyerapan akibat kondisi subjektif ialah penyerapan yang disebabkan oleh anggota masyarakat pemakai bahasa tertentu yang merasa lebih bangga menggunakan kosakata di luar bahasanya.

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa terpencil yang terisolasi. Oleh karena itu, maka bangsa Indonesia melakukan kontak dengan bangsa-bangsa lain. Memang perjalanan sejarah tidak dapat dimungkiri bahwa di antara kontak yang terjadi antara bangsa Indonesia dengan dunia luar itu ada yang terjadi dengan cara yang tidak manusiawi lewat imperialisme. Namun, dalam bentuk apa pun kontak itu terjadi, kontak antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain itu tetap dapat membawa manfaat bagi perkembangan bangsa dan juga bahasa Indonesia. Kita menyaksikan penjajahan Belanda atas bumi Indonesia telah menyebabkan adanya perkembangan bahasa Indonesia yang cukup positif. Kita tidak dapat menutup mata atas pengaruh positif bahasa Belanda terhadap bahasa Indonesia. Bahkan kosakata serapan dari bahasa Belanda yang dapat kita selidiki dalam khazanah kosakata bahasa indonesia jumlahnya menduduki peringkat pertama di atas bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Demikianlah bahasa Indonesia, dalam proses perkembangannya, telah menyerap beribu kata dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Ribuan kata yang telah masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyerapan itu telah menyebabkan bahasa Indonesuia bersalin rupa dari bahasa aslinya. Bahasa Indonesia, memang, kini sudah tidak lagi sama dengan bahasa Melayu yang menjadi asal-usulnya.

Bahasa Indonesia yang dipergunakan sehari-hari dalam berbagai kesempatan dan berbagai situasi pragmatik, misalnya berbeda dengan bahasa Malaysia, meskipun kedua bahasa itu sama-sama berasal dari bahasa Melayu. Perbedaan itu di antaranya disebabkan oleh perbedaan pengaruh-pengaruh luar yang masuk termasuk kata-kata serapan dari bahasa lain. Demikianlah pula halnya dengan bahasa Brunei Darussalam. Bahasa tersebut sedikit banyak berbeda, baik dengan bahasa indonesia maupun dengan bahasa Malaysia.

Sumber referensi :
http://anaksastra.blogspot.com/2009/06/kontak-bahasa-penyerapan-bahasa.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: