Skip navigation

Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.

Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam pengguanaanya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut. Kata-kata yang menyimpang disebut kata non baku. Hal ini terjadi salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Faktor ini mengakibabkan daerah yang satu berdialek berbeda dengan dialek didaerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya terhadap bahasa Indonesia.

Saat kita mempergunakan bahasa Indonesia perlu diperhatikan dan kesempatan. Misalnya kapan kita mempunyai ragam bahasa baku dipakai apabila pada situasi resmi, ilmiah. Tetapai ragam bahasa non baku dipakai pada situas santai dengan keluarga, teman, dan di pasar, tulisan pribadi, buku harian. Ragam bahasa non baku sama dengan bahasa tutur, yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari terutama dalam percakapan

Bahasa tutur mempunyai sifat yang khas yaitu:
a. Bentuk kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung.
b. Menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-hari. Contoh: bilang, bikin, pergi, biarin.

Didalam bahasa tutur, lagu kalimat memegang peranan penting, tanpa bantuan lagu kalimat sering orang mengalami kesukaran dalam memahami bahasa tutur.

CIRI-CIRI BAHASA BAKU
Yang dimaksud dengan bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang diajukan dasar ukuran atau yang dijadikan standar. Ragam bahasa ini lazim digunakan dalam:

1. Komunikasi resmi, yakni dalam surat menyurat resmi, surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi, dan sebagainya.
2. Wacan teknis seperti dalam laporan resmi, karang ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.
3. Pembicaraan didepan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya.
4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya. Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh bahasa baku tertulis, sedangkan pemakaian (3) dan (4) didukung oleh ragam bahasa lisan. Ragam bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

BAHASA BAKU VS BAHASA TIDAK BAKU
Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa tidak baku yang membuatnya terasa lebih “hidup” dan membumi, menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan.

Deh/ dah

Deh/ dah asalnya dari kata sudah yang diucapkan singkar menjadi deh/ dah atau udah. Namun dalam konteks berikut, deh/ dah ini sebagai penekanan atas pernyataan.
– Bagaimana kalau …
Coba dulu deh. (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) – Bagaimana kalau dicoba dahulu?
Besok pagi aja deh. – Bagaimana kalau besok pagi saja?

– Saya mau …
Lagi deh. – Saya mau lagi.
Yang biru itu deh. – Saya mau yang biru itu saja.
Aku pergi deh. – Saya mau pergi dahulu.

Dong
Partikel dong digunakan sebagai penegas yang halus atau kasar pada suatu pernyataan yang akan diperbuat.
– Tentu saja …
Sudah pasti dong. – Sudah pasti / Tentu saja.
Mau yang itu dong – Tentu saja saya mau yang itu.

– Kata perintah atau larangan yang sedikit kasar / seruan larangan.
Maju dong! – Tolong maju, Pak/Bu.
Pelan-pelan dong! – Pelan-pelan saja, Kak/Dik.

Eh
– Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua.
Eh, namamu siapa? – Bung, namamu siapa?
Eh, ke sini sebentar. – Pak/Bu, ke sini sebentar.
Ke sini sebentar, eh. – Ke sini sebentar, Bung.

– Membetulkan perkataan sebelumnya yang salah.
Dua ratus, eh, tiga ratus. – Dua ratus, bukan, tiga ratus.
Biru, eh, kalau tidak salah hijau. – Biru, bukan, kalau tidak salah hijau.

– Mengganti topik pembicaraan
Eh, kamu tahu tidak … – Omong-omong, kamu tahu tidak …
Eh, jangan-jangan … – Hmm… jangan-jangan …

– Berdiri sendiri: menyatakan keragu-raguan
Eh…

Selain ‘eh’ sebagai sebutan untuk orang kedua, partikel ini biasanya tidak dapat dipakai di akhir kalimat lengkap.

Kan
– Kependekan dari ‘bukan’, dipakai untuk meminta pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan).
Bagus kan? – Bagus bukan?
Kan kamu yang bilang? – Bukankah kamu yang bilang demikian?
Dia kan sebenarnya baik. – Dia sebenarnya orang baik, bukan?

– Jika dirangkai dalam bentuk “kan … sudah …” menyatakan suatu sebab yang pasti (pernyataan).
Kan aku sudah belajar. – Jangan khawatir, aku sudah belajar.
Dia kan sudah sabuk hitam. – Tidakkah kamu tahu bahwa dia sudah (memiliki tingkatan) sabuk hitam.

– Berdiri sendiri: menyatakan dengan nada kemenangan “Lihatlah, bukankah aku sudah bilang demikian”
Kan…

Kok
– Kata tanya pengganti ‘Kenapa (kamu)’
Kok kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat?
Kok diam saja? – Kenapa kamu diam saja?
Kok dia mukanya masam? – Kenapa dia mukanya masam?
Kok aku tidak percaya kamu? – Kenapa aku tidak dapat mempercayaimu?

– Memberi penekanan atas kebenaran pernyataan yang dibuat.
Saya dari tadi di sini kok. – Saya mengatakan dengan jujur bahwa dari tadi saya ada di sini.
Dia tidak mencurinya kok. – Saya yakin bahwa dia tidak mencurinya.

– Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
Kok???

Lho/Loh
– Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi.
Lho, kok kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran)
Loh, apa-apaan ini! – Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah)
Lho, aku kan belum tahu? – Aku sebenarnya belum tahu. (dengan ekspresi tidak bersalah)
Loh, kenapa dia di sini? – Kenapa dia ada di sini? (dengan ekspresi terkejut)

– Kata informatif, untuk memastikan / menekankan suatu hal.
Begitu lho caranya. – Begitulah caranya.
Nanti kamu kedinginan loh. – Nanti kamu akan kedinginan (kalau tidak menggunakan jaket, misalnya).
Aku mau ikut lho. – Aku mau ikut, tahu tidak?.
Ingat loh kalau besok libur. – Tolong diingat-ingat kalau besok libur.
Jangan bermain api lho, nanti terbakar. – Ingat, jangan bermain api atau nanti akan terbakar.

– Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
Lho???

Nih/ ni
– Kependekan dari ‘ini’.
Nih balon yang kamu minta. – Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu minta.
Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. – Ini tugasmu sudah saya selesaikan.
(I)ni orang benar-benar tidak bisa dinasehati – Orang ini benar-benar tidak bisa dinasehati

– Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan diri sendiri).
Cape, nih. – Saya sudah lelah. (dengan ekspresi lelah)
Saya sibuk, nih. – Saya baru sibuk, maaf. (dengan ekspresi menolak tawaran secara halus)
Sudah siang, nih. – Sekarang sudah siang. Ayo lekas …

– Untuk memberi penekanan pada subjek orang pertama
Saya nih yang tahu jawabannya. – Hanya saya yang tahu jawabannya.
Aku nih sebenarnya anak konglomerat. – Aku ini sebenarnya anak konglomerat.

– Berdiri sendiri: memberikan/menyerahkan sesuatu kepada orang lain
Nih.

Sih
– Karena …
Dia serakah sih. – Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh)
Kamu sih datangnya terlambat. – Karena kamu datang terlambat. (dengan ekspresi menyesal)

– Digunakan tepat setelah sebuah kata tanya yang artinya kurang lebih “Sebenarnya …”
Tadi dia bilang apa sih? – Sebenarnya apa yang dia katakan tadi?
Berapa sih harganya? – Sebenarnya berapa harganya?
Apa sih yang dia mau? – Sebenarnya apa yang dia mau? (dengan ekspresi jengkel)
Maumu kapan sih? – Sebenarnya kapan yang kamu mau?

– Membedakan seseorang dari sekumpulan orang.
Tetanggaku semuanya miskin, tapi orang itu sih kaya. – Orang itu lebih kaya daripada yang lain.
Aku sih tidak akan terjebak, kan aku sudah belajar banyak. – (Yang lain boleh terjebak,) Saya pasti tidak akan terjebak, sebab saya sudah belajar banyak.

– Kata yang mengakhiri satu pernyataan sebelum memulai pernyataan yang bertentangan.
Mau sih, tapi ada syaratnya. – Saya mau tetapi ada syaratnya.
Saya bisa sih, cuma ada beberapa yang ragu-ragu. – Saya bisa tetapi ada beberapa yang saya masih ragu-ragu.
Itu saya sih, tapi saya tidak bermaksud melukainya. – Itu sebenarnya saya, tetapi saya tidak bermaksud melukainya.
Kalau aku sih tenang-tenang saja. – Kalau saya sekarang ini tenang-tenang saja.

Tuh/ tu
– Kependekan dari ‘itu’, menunjuk kepada suatu objek
Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. – Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu.
Tuh orang yang tadi menolongku. – Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.

– Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan orang lain).
Kelihatannya dia sudah sembuh, tuh. – Lihat, nampaknya dia sudah sembuh.
Tuh, kamu lupa lagi kan? – Lihat, kamu lupa lagi bukan?
Ada yang mau, tuh. – Lihat, ada yang mau (barang tersebut).

– Untuk memberi penekanan pada subjek orang kedua atau ketiga.
Dia tuh orangnya tidak tahu diuntung. – Dia sebenarnya orang yang tidak tahu berterima kasih.
Kalau jadi orang seperti Bapak camat tuh. – Jadilah seseorang seperti Bapak camat.
Kamu tuh terlalu baik. – Kamu orang yang terlalu baik.

– Berdiri sendiri: menunjukkan sesuatu kepada orang lain
Tuh.

Ya
Ya di sini tidak selalu berarti persetujuan. Beberapa penggunaan partikel ‘ya’:
– Kata tanya yang kurang lebih berarti “Apakah benar …?”
Rapatnya mulai jam delapan ya? – Apakah benar rapatnya mulai jam delapan?
Kamu tadi pulang dulu ya? – Apakah benar tadi kamu pulang dulu?

– Kalau bukan ini, ya itu
Kalau tidak mau, ya tidak masalah. – Kalau tidak mau tidak masalah.
Kalau mau, ya silakan. – Kalau mau silakan (ambil / ikut / beli / dll.)

– Sebagai awal kalimat digunakan tepat setelah sebuah kalimat dengan nada bertanya.
Mahal? ya jangan beli. – Kalau mahal jangan dibeli.
Apa? (dengan ekspresi tidak percaya) Ya jangan mau dong. – Apa? Kalau begitu jangan mau.
Apa kamu bilang? Ya dilawan dong. – Apa kamu bilang? Tahu begitu seharusnya kamu melawan.

– Berdiri sendiri: lawan kata ‘tidak’; kependekan dari ‘iya’; menyatakan persetujuan
Ya.

Yah
Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri sendiri.
Yah…
Yah, kamu sih – Ini karena kamu
2.1. Penggunaan Kaidah Tata Bahasa

Kaidah tata bahasa normatif selalu digunakan secara ekspilisit dan konsisten. Misalnya:

1. Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara ekpilisit dan konsisten.
Misalnya:
Bahasa baku
– Gubernur meninjau daerah kebakaran.
– Pintu pelintasan kereta itu kerja secara otomatis.

2. Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk secara ekspilisit. Misalnya:
Bahasa Baku
– Ia tidak tahu bahwa anaknya sering bolos.
– Ibu guru marah kepada Sudin, ia sering bolos.

3. Pemakaian pola frase untuk peredikat: aspek+pelaku+kata kerja secara konsisten. Misalnya:
Bahasa Baku
– Surat anda sudah saya terima.
– Acara berikutnya akan kami putarkan lagu-lagu perjuangan.
Bahasa Tidak Baku
– Surat anda saya sudah terima.
– Acara berikutnya kami akan putarkan lagu-lagu perjuangan.
4. Pemakaian konstruksi sintensis. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
– anaknya – dia punya anak
– membersihkan – bikin bersih
– memberitahukan – kasih tahu
– mereka – dia orang

5. Menghindari pemakaian unsur gramatikal dialek regional atau unsure gramatikal bahasa daerah. Misalnya:
Bahasa Baku
– dia mengontrak rumah di Kebayoran lama
– Mobil paman saya baru
Bahasa Tidak Baku
– Dia ngontrak rumah di Kebayoran lama.
– Paman saya mobilnya baru.

2.2. Penggunaan Kata-Kata Baku
Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang perekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan- pertimbangan khusus. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
– cantik sekali – cantik banget
– lurus saja – lempeng saja
– masih kacau – masih sembraut
– uang – duit
– tidak mudah – enggak gampang
– diikat dengan kawat – diikat sama kawat
– bagaimana kabarnya – gimana kabarnya

2.3. Penggunaan Ejaan Resmi Dalam Ragam Tulisan
Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (singkat EyD) EyD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka penulisan unsur serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
– bersama-sama – bersama2
– melipatgandakan – melipat gandakan
– pergi ke pasar – pergi kepasar
– ekspres – ekspres, espres
– sistem – sistim

2.4. Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan
Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafl daerah.
Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
– atap – atep
– menggunakan – menggaken
– pendidikan – pendidi’an
– kalaw – kalo,kalo’
– habis – abis
– dengan – dengen
– subuh – subueh
– senin – senen
– mantap – mantep
– pergi – pigi
– hilang – ilang
– dalam – dalem

2.5. Penggunaan Kalimat Secara Efektip
Maksudnya, kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan dengan pembicaraan atau tulisan kepada pendengar atau pembaca, persis seperti yang di maksud pembicara atau penulis.

Keefektipan kalimat ini dapat dicapai antara lain dengan:

1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasan yang benar, misalnya:
Bahasa Baku
– Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
– Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan
keluarganya merasa tidak aman.
Bahasa Tidak Baku
– Di pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
– Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan
keluarganya.

2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis didalam kalimat. Misalnya:
Bahasa Baku
– Dia datang ketika kami sedang makan.
– Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.
Bahasa Tidak Baku
– Ketika kami sedang makan dia datang.
– Loket belum dibuka dan hari tidak hujan.
3. Penggunaan kata secara tepat dan efesien. Misalnya:
Bahasa Baku
– Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
– Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
2003 Digitalized by USU digita library 4
Bahasa Tidak Baku
– Korban kecelakaan bulan ini naik.
– Panen gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
4. Penggunaan pariasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang
ingin ditonjolkan. Misalnya:
Kalimat Biasa
– Dia pergi dengan diam-diam.
– Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Kalimat Bertekanan
– Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Kalimat Bertekanan
– Pergilah daia dengan diam-diam.
– Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.

3. ANALISI RAGAM BAHASA BAKU DAN NON BAKU DALAM BAHASA
INDONESIA

3.1. Sudara ketua, para hadirin yang terhormat, kalimat tersebut jelas salah, karena mengandung makna jamak. Kata para sudah menyatakan jamak, begitu juga kata hadirin, sudah mengandung makna semua orang yang hadir, oleh karena itu tidak perlu dijamakkan lagi dengan menempatkan kata peserta para. Kalimat yang benar adalah: saudara ketua, hadirin yang terhormat,…..

3.2. Waktu kami menginjak klinik di bulan September… Kalimat diatas jelas salah, karta majemuk tidak tepat diapaki seharusnya memasuki, kata perangkai “di” tidak boleh ditempatkan didepan kata tidak menunjukkan kata tempat, jadi diganti dengan pada. Kalimat yang benar adalah: waktu kami memasuki klinik pada bulan September…..

3.3. Berhubung beryangkitnya penyakit cacar perlu diambil tindakan….. Kalimat diatas salah, kata penghubung yang harus selalu diikuti oleh, dengan, dan dibelakang kata cacar lebih baik dibubui koma. Jadi kalimat yang benar adalah: berhubung dengan berjangkitnya penyakit cacar, perlu diambil tindakan…..

3.4. Atas perhatian saudara dihaturkan banyak terima kasih. Kalimat diatas salah karena kata dihaturkan tidak ada dalam bahasa Indonesia, yang ada kata diucapkan selanjutnya kata banyak juga tidak dipakai, karena tidak lazim. Jadi kalimat yang benar adalah: atas perhatian saudara diucapkan terima kasih…..

3.5. Seluruh sekolah-sekolah yang ada dikota ini tidak menyenangi sistem ujian itu. Kalimat diatas salah. Kata seluruh sudah menunjukkan jamak. Jadi tidak perlu kata yang didepannya diulang, cukup seluruh sekolah. Selanjutnya kata depan di harus dipisahkan. Penulisan kata sisitim seharusnya sistem. Jadi kalimat yang benar adalah seluruh skolah yang ada dikota ini tidak menyenangi sistem ujian itu.

3.6. Seluru anggota perkumpulan itu harus hadir pada jam 14.00 siang.
Kalimat diatas salah.
I. Penulisan anggauta seharusnya anggota.
II. Penulisan hadlir seharusnya hadir (hiperkorek).
III. Menunjukkan waktu dipakai kata yang tepat adalah pukul.
Jadi kalimat yang benar adalah:
Seluruh anggota perkumpulan itu harus hadir pukul 14.00.

3.7. Sejak mulai dari hari Senen yang lalu sangat sedikit sekali perhatiannya
dipelajaran itu. Kalimat diatas salah.
2003 Digitalized by USU digita library 5
I. Kata sejak, mulai, dan mencakup pengertian yang sama. Jadi pilih
salah satu.
II. Kata Senen adalah non baku, yang baku adalah Senin.
III. Kata sangat, sekali mencakup pengertian yang sama.
IV. Kata depan “di” pada kata dipelajari tidak tepat, seharusnya pada
pelajaran. Jadi kalimat yang benar adalah:
Sejak Senin yang lalu sangat sedikit perhatiannya pada pelajaran.
Sejak Senin yang lalu sangat sedikit perhatiannya pada pelajaran itu.

3.8. Sya sudah umumkan supaya setiap mahasiswa-mahasiswa datang besok hari
Sabtu yang akan datang.
Kalimat diatas salah.
I. Saya sudah umumkan, bahasa yang non baku, tidak memakai pola
frase verba.
II. Kata setiap sudah menunjukkan jamak tidak perlu kata yang di
depannya diulang.
III. Kata besok tidak perlu, sebab membingungkan.
Kalimat yang benar:
Sudah saya umumkan supaya setiap mahasiswa datang hari Sabtu yang
akan datang.

3.9. Adalah sudah merupakan suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia
adalah bahasa persatuan dan kesatuan resmi negara.
Kalimat di atas salah.
1. Ungkapan adalah sudah merupakan suatu kenyataan bahwa adalah ungkapan mubazir,tanpa ungkapan itu makna sudah jelas pembaca sudah memahaminya.
Kalimat benar adalah:
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa resmi negara.

3.10. Sebagaimana telah ditetapkan pekerjaan itu biasanya dilakkukan tiga kali
seminggu.
Kalimat diatas adalah salah.
I. Penggunaan kata biasanya tidak perlu, karena makna kata itu sudah tersirat dalam ungkapan sebagaimam telah ditetapkan
II. Penulisan kata se- Minggu non bakau, yang baku adalah seminggu. Kalimat yang benar adalah sebagaimana telah ditetapkan pekerjaan itu dilakukan tiga kali seminggu.

4. KESIMPULAN
1. Bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok ajuan, yang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar.

2. Ragam bahasa baku bahasa Indonesia memang sulit untuk dijalankan, atau yang digunakan karena untuk memahaminay dibutuhkan daya nalar yang tinggi.

3. Dengan menggunakan ragam bahasa baku, seseorang akan menaikkan
prestisenya.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal, E. 1985. Cermat Berbahasa Indonesia untuk perguruan tinggi. Jakarta:
Antar Kota.
——————–. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Baik Dan Benar. Jakarta: PT
——————–. 1985. Inilah Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
——————–. 1993. Pembukaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rhineka Cipta.
Badudu, j.s. 1994. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bhrata Media.
Chaer, abdul. 1989. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia Untuk Umum. Jakarat: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. Pedoman Umum Ejaan yang
Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumber referensi
http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/analisis-bahasa-baku-dan-non-baku-dalam.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: